Pendidikan dalam Keluarga yang
ISLAMI
IHSAN NURHIDAYAT
Assalamualaikum wr.wb
Hak primer pendidikan seorang anak
berada ditangan kedua orang-tuanya. Sedangkan masyarakat dan negara dalam hal
pendidikan tersebut memiliki hak sekunder. Hal ini secara implisit terkandung
dalam Firman Allah: “Jagalah dirimu dan keluargamu-termasuk anak-anakmu
dari siksa api neraka”. (At Tahrim: 6)
Secara implisit pula ayat tersebut
mengandung arti bahwa orang-tua pada umumnya diberi kemampuan oleh Allah swt
untuk mendidik anaknya. Dan orang tualah yang menjadi faktor penentu apakah
anak yang lahir fitrah itu akan di didik beragama Yahudi, atau beragama Majusi,
atau beragama Nasrani, ataukah beragama Islam.
Sifat pendidikan dalam keluarga
adalah informal. Tanpa kurikulum, tanpa jadwal pelajaran tertentu dan tanpa
formalitas yang lazim terjadi pada jenis pendidikan lainnya. Pendidikan
berlangsung sepanjang waktu ketidak hadirin orang tuapun proses pendidikan itu
tetap berlangsung.
Pada pendidikan informal tersebut
terdapat tiga hal yang penting, yakni: suasana lingkungan rumah tangga pada
umumnya, corak hubungan antar anggota keluarga, khususnya antara 0rang-tua
dengan anak-anaknya, dan keteladanan.
Mengenai dua hal yang pertama
Rasulullah saw pernah bersabda sebagai berikut :
“Apabila Allah swt. menghendaki
sesuatu rumah tangga yang baik, maka diberikannya kecenderungan mempelajari
ilmu-ilmu agama (Islam); yang muda menghormati yang tua; harmonis dalam
kehidupan; hemat dan hidup sederhana; menyadari cacat-cacat mereka dan kemudian
melakukan taubat. Jika Allah swt. menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkan-Nya
mereka dalam kesesatan”. (Hadist, riwayat Dailami, dari Anas)
Pendidikan informal dalam keluarga
ini mempunyai arti penting bagi perkembangan pribadi anak karena beberapa
faktor. Selain pendidikan dalam keluarga merupakan batu pertama di masa peka
yang sukar terhapus dari jiwa anak, pendidikan dalam keluarga juga diberikan
secara kontinyu sepanjang waktu, dan didalamnya terkandung hubungan emosional
yang lembut antara orang tua dan anak, sehingga yang teukir pada jiwa anak
tidak hanya kognisinya melainkan keseluruhan pribadinya secara utuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar