|
|||||
Ihsan Dokumen Colections
Penyimpanan Dokumen- dokumen ihsan
Rabu, 09 Oktober 2013
Hakikat Kepemimpinan
Pendidikan dalam Keluarga yang Islami
Pendidikan dalam Keluarga yang
ISLAMI
IHSAN NURHIDAYAT
Assalamualaikum wr.wb
Hak primer pendidikan seorang anak
berada ditangan kedua orang-tuanya. Sedangkan masyarakat dan negara dalam hal
pendidikan tersebut memiliki hak sekunder. Hal ini secara implisit terkandung
dalam Firman Allah: “Jagalah dirimu dan keluargamu-termasuk anak-anakmu
dari siksa api neraka”. (At Tahrim: 6)
Secara implisit pula ayat tersebut
mengandung arti bahwa orang-tua pada umumnya diberi kemampuan oleh Allah swt
untuk mendidik anaknya. Dan orang tualah yang menjadi faktor penentu apakah
anak yang lahir fitrah itu akan di didik beragama Yahudi, atau beragama Majusi,
atau beragama Nasrani, ataukah beragama Islam.
Sifat pendidikan dalam keluarga
adalah informal. Tanpa kurikulum, tanpa jadwal pelajaran tertentu dan tanpa
formalitas yang lazim terjadi pada jenis pendidikan lainnya. Pendidikan
berlangsung sepanjang waktu ketidak hadirin orang tuapun proses pendidikan itu
tetap berlangsung.
Pada pendidikan informal tersebut
terdapat tiga hal yang penting, yakni: suasana lingkungan rumah tangga pada
umumnya, corak hubungan antar anggota keluarga, khususnya antara 0rang-tua
dengan anak-anaknya, dan keteladanan.
Mengenai dua hal yang pertama
Rasulullah saw pernah bersabda sebagai berikut :
“Apabila Allah swt. menghendaki
sesuatu rumah tangga yang baik, maka diberikannya kecenderungan mempelajari
ilmu-ilmu agama (Islam); yang muda menghormati yang tua; harmonis dalam
kehidupan; hemat dan hidup sederhana; menyadari cacat-cacat mereka dan kemudian
melakukan taubat. Jika Allah swt. menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkan-Nya
mereka dalam kesesatan”. (Hadist, riwayat Dailami, dari Anas)
Pendidikan informal dalam keluarga
ini mempunyai arti penting bagi perkembangan pribadi anak karena beberapa
faktor. Selain pendidikan dalam keluarga merupakan batu pertama di masa peka
yang sukar terhapus dari jiwa anak, pendidikan dalam keluarga juga diberikan
secara kontinyu sepanjang waktu, dan didalamnya terkandung hubungan emosional
yang lembut antara orang tua dan anak, sehingga yang teukir pada jiwa anak
tidak hanya kognisinya melainkan keseluruhan pribadinya secara utuh.
Rabu, 10 April 2013
Kurikulum 2013
Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan. Disamping kurikulum, terdapat sejumlah faktor diantaranya: lama siswa bersekolah; lama siswa tinggal di sekolah; pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi; buku pegangan atau buku babon; dan peranan guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan.
Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
Sejumlah hal yang menjadi alasan pengembangan Kurikulum 2013 adalah (a) Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output] memerlukan penambahan jam pelajaran; (b) Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran [KIPP dan MELT di AS, Korea Selatan]; (c) Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat, dan (d) Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial
Sementara itu, Kurikulum 2006 memuat sejumlah permasalahan diantaranya: (1) Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (2) Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; (3) Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (4) Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (5) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; (6) Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan (7) Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.
Tiga faktor lainnya juga menjadi alasan Pengembangan Kurikulum 2013 adalah, pertama, tantangan masa depan diantaranya meliputi arus globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, dan ekonomi berbasis pengetahuan.
Kedua, kompetensi masa depan yang antaranya meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang efektif, dan kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda.
Ketiga, fenomena sosial yang mengemuka seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial (social unrest). Yang keempat adalah persepsi publik yang menilai pendidikan selama ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.
Senin, 10 September 2012
Pembelajaran Menurut Undang-undang Sisdiknas
Pembelajaran
Menurut Undang-undang Sisdiknas
Oleh : Ihsan Nurhidayat
A. Latar Belakang
Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam
Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Berdasarkan
isi dari Undang-undang diatas dalam usaha untuk mencapai tujuan tersebut,
dibutuhkan seorang pendidik yang berkualitas sehingga dalam pola pembelajaran
yang diajarkan dalam proses belajar mengajar dapat mencapai tujuan yang
diinginkan. Dalam proses belajar mengajar, dibutuhkan seorang pendidik yang
mampu berkualitas serta diharapkan dapat mengarahkan anak didik menjadi
generasi yang kita harapkan sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa. Untuk
itu, guru tidak hanya cukup menyampaikan materi pelajaran semata, akan tetapi
guru juga harus pandai menciptakan suasana belajar yang baik, serta juga
mempertimbangkan pemakaian metode dan strategi dalam mengajar yang sesuai
dengan materi pelajaran dan sesuai pula dengan keadaan anak didik. Keberadaan
guru dan siswa merupakan dua faktor yang sangat penting di mana diantara
keduanya saling berkaitan. Kegiatan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh
kegiatan mengajar guru, karena dalam proses pembelajaran guru tetap mempunyai
suatu peran yang penting dalam memberikan suatu ilmu kepada anak didiknya.
Salah satu masalah yang dihadapi guru dalam menyelenggarakan pelajaran adalah
bagaimana menimbulkan aktifitas dan keaktifan dalam diri siswa untuk dapat
belajar secara efektif. Sebab, keberhasilan dalam suatu pengajaran sangat
dipengaruhi oleh adanya aktifitas belajar siswa.
B. Teori
Di dalam sejarah dunia pendidikan guru merupakan sosok figur
teladan bagi siswa yang harus memiliki strategi dan teknik-teknik dalam
mengajar. Kegiatan belajar mengajar sebagai sistem intruksional merupakan
interaksi antara siswa dengan komponen-komponen lainnya, dan guru sebagai
pengelola kegiatan pembelajaran agar lebih aktif dan efektif secara optimal.
Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah menguasai teknik-teknik
penyajian, atau biasanya di sebut metode mengajar. Teknik penyajian pelajaran
adalah suatu pengetahuan tentang cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau
insturktur kepada siswa di dalam kelas agar pelajaran itu dapat ditangkap,
dipahami dan digunakan siswa dengan baik. Di dalam kenyatan cara atau metode
mengajar atau teknik penyajian yang digunakan guru untuk menyampaikan informasi
atau message lisan kepada siswa, berbeda dengan cara yang ditempuh untuk
memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan serta sikap. Maka,
yang disebut dengan strategi belajar mengajar ialah memikirkan dan mengupayakan
konsistansi aspek-aspek komponen pembentuk kegiatan sistem intruksional dengan
siasat tertentu. Strategi Belajar Mengajar adalah pola-pola umum kegiatan guru
– anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dapat digunakan
berbagai strategi dan teknik pembelajaran, yang diantaranya;
1.
Ekspositorik, yaitu suatu strategi belajar
mengajar yang menyiasati agar semua aspek dari komponen pembentukkan sistem
intruksional mengarah pada penyampaian isi pelajaran kepada siswa secara
langsung. Dalam strategi ini tidak perlu mencari dan menemukan sendiri fakta,
prinsip dan konsep yang dipelajari. Semuanya telah disajikan guru secara jelas
melalui aspek-aspek dari komponen yang langsung behubungan dengan para siswa
pada waktu proses pembelajaran berlangsung.
2. Enquiry-Discovery Learning (belajar
mencari dan menemukan sendiri)
Dalam
sistem belajar-mengajar ini, guru menyajikan bahan pelajaran yang tidak dalam
bentuknya yang final. Siswalah yang diberikan kesempatan untuk mencari dan
menemukannnya sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.
Sistem
belajar-mengajar ini dikembangkan oleh Bruner, pendekatan belajar ini sangat
cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif. Kelemahannya, antara lain
memakan waktu yang banyak dan kalau kurang terpimpin dan terarah, dapat
menjurus kepada kekaburan atau materi yang dipelajarinya.
Ciri-ciri
Strategi Pembelajaran Enquiry
Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa
secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya strategi inkuiri
menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa
tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara
verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi
pelajaran itu sendiri.
Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan
untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan,
sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri {self belief). Dengan
demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber
belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas
pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan
siswa. Karena itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan
syarat utama dalam melakukan inkuiri.
Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri
adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis,
atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tak hanya dituntut
untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat
menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran
belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal. Sebaliknya,
siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai
materi pelajaran.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari
pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered
approach). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini siswa memegang
peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran.
3. Strategi Belajar Mengajar
Heuristik, yaitu
suatu strategi belajar mengajar yang mensiasati agar aspek-aspek dari komponen
pembentuk sistem intruksional mengarah pada pengaktifan siswa untuk mencari dan
menemukan sendiri fakta, prinsip dan konsep yagn mereka butuhkan.
4. Pembelajaran
aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua
potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai
hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka
miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan
untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
C.
Implementasi
Dalam penerapan Ekspositori seorang
guru menularkan pengetahuannya kepada siswa secara lisan atau ceramah.
Sedangkan dalam penerapan Enquiry-Discovery Learning, dapat
menggunakan berbagai macam cara, seperti tanya-jawab, untuk memberikan motivasi
pada siswa agar bangkit pemikirannya untuk bertanya, selama mendengarkan
pelajaran atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai isi pelajaran yang
sedang diajarkan guru agar dimengerti, bermanfaat dan dapat diingat dengan
baik, bisa juga dengan cara diskusi, dimana di dalam teknik ini terjadi proses
interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar
pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat juga semuanya aktif tidak ada yang
pasif sebagai pendengar.
Seorang guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan
inspirator dari proses kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga semua
kualitas dari dalam diri anak-anak didiknya, akan terbuka. Semua kreativitas
terletak di dalam diri anak-anak didik, karena anak-anak didik kita memiliki
jiwa di mana terletak sumber dari segala potensi-potensinya. Karena
ketidaktahuannyalah maka kita sebagai seorang calon /guru adalah pemandu
spiritual untuk membantu memberikan pengetahuan kepada jiwa anak-anak didik
kita. Keterlibatan jiwa seorang murid dalam suatu kegiatan belajar mengajar,
akan memberikan motivasi kuat kepada mereka. Anak-anak didik kita akan merasa
dirinya berharga untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
D.
Keunggulan dan Kelemahan
·
Ekspositori
Keunggulannya;
1. Guru bisa mengontrol urutan dan
keluasan materi pembelajaran, ia dapat mengetahui sejauh mana siswa menguasai
bahan pelajaran yang disampaikan.
2. Strategi pembelajaran ekspositori
dianggap sangat efektif apabila materi palajaran yang harus dikuasai siswa
cukup luas.
3. Melalui strategi pembelajaran
ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan tentang suatu materi
pelajaran, juga siswa bisa melihat atau mengobservasi melalui palaksanaan
demonstrasi.
4. Dapat digunakan untuk jumlah
siswa dan ukuran kelas yang besar.
Kelemahannnya;
1. Strategi ini tidak mungkin
melayani perbedaan setiap individu, baik perbedaan kemampuan, pengetahuan,
minat, bakat, dan yang lainnya.
2. Karena lebih banyak diberikan
melalui cearamah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal
kemampuan berfikir kritis.
3. Keberhasilan strategi ini
bergantung pada apa yang dimiliki guru, seperti persiapan, pengetahuan, rasa
percaya diri, semangat, motivasi, kemampuan, dan yang lainnya.
·
Enquiry-Discovery
Learning
Keunggulannya;
- Startegi ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepadapengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
- Startegi ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
- Strategi ini merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
- Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Kelemahannya;
- Jika strategi ini digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
- Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
- Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
- Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka startegi ini akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)